Analisis Ikonografi
Analisis lambang Surya Majapahit dilakukan melalui tahapan identifikasi bentuk visual, simbol, serta unsur ikonografi yang terdapat pada setiap bagian lambang. Tahapan ini bertujuan untuk memahami makna religius, kosmologis, dan nilai budaya yang terkandung dalam simbol Surya Majapahit pada masa Kerajaan Majapahit.
Elemen Pada Logo Surya Majapahit

Bagian tengah ornamen Surya Majapahit berbentuk lingkaran. Lingkaran ini secara filosofis melambangkan cakrawala atau keselarasan kosmis. Dalam konteks yang lebih luas, lingkaran merepresentasikan keutuhan, kesempurnaan, dan siklus kehidupan yang abadi, mencerminkan pandangan dunia Majapahit tentang alam semesta yang teratur dan harmonis.

Bagian terluar dari lambang ini membentuk sinar matahari atau salur-salur yang berjumlah delapan. Sinar matahari ini melambangkan Asta Dikpala, yaitu delapan penjaga penjuru mata angin. Keberadaan delapan sinar ini menegaskan bahwa kekuasaan dan perlindungan ilahi meliputi seluruh alam semesta (Makrokosmos), serta menyimbolkan pancaran energi dan kekuasaan yang tak terbatas dari pusat ilahi.

Pada bagian pusat lambang Surya Majapahit, Dewa Siwa ditempatkan sebagai Mahadewa atau Sadasiwa, yang melambangkan Tuhan Yang Maha Esa (Sang Hyang Widhi). Keberadaan Siwa di tengah menegaskan dominasi ajaran Hindu-Siwa dan menempatkannya sebagai Axis Mundi, poros dunia yang menjadi pusat segala sesuatu dalam kosmologi Hindu-Jawa. Atribut utama Dewa Siwa adalah Trisula, senjata yang melambangkan tiga kekuatan utama penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan, serta Panca Warna yang merepresentasikan lima elemen alam semesta.
Mengelilingi Dewa Siwa di pusat, terdapat delapan dewa lainnya yang dikenal sebagai Dewata Nawa Sanga, yaitu sembilan dewa penguasa penjuru mata angin. Setiap dewa ini merupakan manifestasi dari Sang Hyang Widhi dan memiliki peran serta atribut spesifik:
-
Utara: Wisnu (Sthiti). Wisnu adalah dewa pemelihara alam semesta (Sthiti). Atributnya adalah Cakra, senjata berbentuk roda yang melambangkan hukum alam dan perputaran waktu
-
Timur Laut: Sambhu. Sebagai manifestasi Siwa, Sambhu berada di timur laut dengan atribut Trisula
-
Timur: Iswara. Manifestasi Siwa ini menguasai timur dengan senjata Bajra (Gada), yang melambangkan kekuatan dan kekuasaan.
-
Tenggara: Maheswara. Dewa ini juga merupakan manifestasi Siwa, bersemayam di tenggara dengan atribut Dupa yang melambangkan persembahan dan kesucian.
-
Selatan: Brahma (Utpatti). Brahma adalah dewa pencipta alam semesta (Utpatti). Atributnya adalah Gada / Danda, yang melambangkan kekuatan dan keadilan
-
Barat Daya: Rudra. Manifestasi Siwa ini berada di barat daya dengan atribut Moksala.
-
Barat: Mahadewa. Manifestasi Siwa ini menguasai barat dengan senjata Nagapasa, yang melambangkan kekuatan ular naga
-
Barat Laut: Sangkara. Manifestasi Siwa ini bersemayam di barat laut dengan atribut Angkus dan warna Hijau.

Hubungan Sosial, budaya dan kepercayaan
Secara historis, Surya Majapahit bukan sekadar ornamen, melainkan simbol legitimasi religius dan politik Kerajaan Majapahit. Lambang ini sering ditemukan pada artefak penting seperti batu penutup lubang sumur, ambang pintu candi, dan nisan makam bangsawan, menunjukkan fungsinya sebagai tanda perlindungan dan identitas resmi kerajaan. Penggunaannya yang luas mencerminkan struktur sosial yang sangat menghargai hierarki kosmis, di mana setiap individu memiliki posisi yang ditentukan oleh tatanan ilahi. Bahkan setelah keruntuhan Majapahit dan masuknya Islam, ornamen ini masih digunakan, mengalami modifikasi makna dan teknik sesuai nilai-nilai Islam-Jawa, menunjukkan proses akulturasi budaya yang harmonis.
Dalam Segi Kepercayaan, masyarakat Majapahit menganut sinkretisme Siwa-Buddha, namun lambang Surya Majapahit secara jelas mencerminkan dominasi ajaran Hindu-Siwa dengan Dewa Siwa sebagai pusatnya. Dewata Nawa Sanga menjadi panduan spiritual dalam ritual, arsitektur, dan tata kota, memastikan keselarasan antara dunia manusia dan dunia dewa. Ornamen ini juga mengandung nilai-nilai pendidikan yang berkaitan dengan karakter ideal yang harus dimiliki, serta ajaran Hastagina-Hastabrata yang memberikan gambaran tentang pemimpin ideal dan sikap yang perlu dimiliki setiap pemimpin. Dengan demikian, Surya Majapahit tidak hanya berfungsi sebagai simbol kekuasaan, tetapi juga sebagai pedoman moral dan spiritual bagi masyarakat dan pemimpin Majapahit.